Empat Anak Warga Punggelan Nyaris Tertimpa Rumah Roboh

  • Bagikan

Banjarnegara, Buser45.com |Menetes air mata menyaksikan Nur (5 tahun), bocah lelaki dengan kondisi bisu tuli, tinggal di rumah yang hampir roboh itu. Empat tiang kayu, yang mungkin dahulu berdiri kokoh menyangga rumah, kini seakan tak sanggup lagi menanggung beban. Seandainya roh kehidupan tak ada lagi, mungkin gubuk itu sudah lama rata dengan tanah.

Bagi sebagian orang, hidup adalah pilihan, tapi tidak bagi Nur dan ketiga kakaknya. Mereka tak punya pilihan untuk meninggalkan gubuk derita itu. Mereka tak punya pilihan untuk lari dari kenyataan sebagaimana yang dilakukan bapak mereka ketika meninggalkan istri dan keempat anaknya yang masih kecil-kecil sendirian. Entah di mana si bapak kini berada.

Ibunya Nur dan ketiga kakaknya adalah seorang perempuan perkasa yang sehari-hari berjuang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Ia berjuang keras menghidupi keempat anaknya hingga ajal menjemputnya. Akhirnya, anak-anak itu hidup tanpa mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya.

Sepeninggal ibunya, tulang punggung keluarga hanya ada pada satu anak, tiga lainnya tidak sehat. Ia mencari nafkah, menjaga adik dan kakaknya, serta menjaga agar saudara-saudarnya tidak tertimpa akibat rumahnya roboh.

Namun, Senin (09/05/22), rumah yang menjadi tempat bernaung keempat anak itu tiba-tiba roboh. Rumah di RT 01 RW 04 itu roboh. Untungnya, warga bertindak gercep (gerak cepat, red). Bahkan, mulai dari Ikatan Pemuda Kecembang, PKBN, tenaga kerja sosial kecamatan (TKSK), Danramil Punggelan. Kapolsek Punggelan, hingga Camat Punggelan menyingsingkan lengan baju untuk membantu keempat bersaudara itu terselamatkan dari rumah yang ambruk itu.

Akhirnya, rumah yang ditempati Nur dan ketiga kakaknya, Monik (25), Sabar (23), dan Udin (20), memang belum mendapat bantuan dari pemerintah untuk membantu rumah tidak layak huni (RTLH) dari pemerintah. Demikian dikatakan Lurah Punggelan, Taufik, yang tak kalah berperan dalam pertolongan atas penghuni rumah RTLH ini.

“Rumah ini sudah lama saya ajukan sebagai penerima bantuan program RTLH, tapi belum ada yang positif. Alhamdulillah hari ini bantuan dari baznas dinsos, koramil, polsek, dan alemen masyarakat turun tangan membantu warga saya. Semoga rumah tinggal ini segara bisa dibangun untuk tempat mereka,” ungkap Lurah Taufik, Senin (9/5).

Sebagai pemimpin, kiprahnya tidak hanya sampai di situ. Ia merasa masih mempunyai PR, pekerjaan rumah, memikirkan masa depan keempat anak itu. Sebagaimana diketahui anak tertua, Monik, menderita sakit lambung akut, kemudian Sabar yang kakinya patah akibat kecelakaan, lalu Udin yang sudah tidak bersekolah lagi, dan si bungsu Nur yang menderita bisu tuli.

“Mereka warga saya dan perlu mendapat bimbingan dan santunan untuk kehidupan mereka. Kami berterima kasih kepada warga di sini yang cukup tinggi rasa pedulinya kepada tetangganya,” katanya.

(*Rudolf*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.