Kasus Penyakit Mulut-Kuku di Banjarnegara, Peternak Ungkap Gejalanya

  • Bagikan

Banjarnegara,    Buser45.com  |Puluhan sapi milik Fahrudin, warga Desa Karangjambe, Kecamatan Wanadadi, Banjarnegara, terindikasi terkena penyakit kuku dan mulut (PMK). Sapi yang didatangkan dari wilayah Jawa Timur ini mengalami kuku pecah hingga keluar lendir dari mulut sapi.

“Ada 80 ekor sapi di sini, dan semuanya mengalami hal serupa. Yakni kuku pada pecah, lemah dan keluar lendir dari mulut sapi,” ujar Fahrudin, peternak sapi asal Desa Karangjambe saat dihubungi Awak Media, Sabtu (14/5/2022).

Gejala tersebut sudah terjadi mulai Lebaran beberapa hari lalu. Namun ia belum bisa memastikan apakah sapi miliknya positif terdeteksi PMK. Mengingat hingga saat ini hasil pemeriksaan masih dalam uji laboratorium.

Kemarin sudah diperiksa dari dinas. Diambil sampelnya, tapi hasilnya belum keluar. Tapi kalau melihat ciri-cirinya memang seperti PMK,” kata dia.

Menurut Fahrudin, gejala PMK pada sapi miliknya diduga tertular dari wilayah Jawa Timur. Pasalnya, sebagian sapi miliknya didatangkan dari wilayah Jawa Timur.

“Kalau sapi di sini memang sebagian besar dari Jawa Timur. Kemungkinan ya karena itu jadi tertularnya,” ungkapnya.

Saat ini, sebagai antisipasi pihaknya terus melakukan perawatan khusus. Salah satunya dengan memberikan vitamin untuk semua sapi miliknya.

“Kalau upayanya sudah diberi vitamin. Kemarin dari dinas juga sudah ke sini memeriksa dan memberi vitamin,” terangnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Banjarnegara Totok Setya Winarna membenarkan jika saat ini kasus penyakit mulut dan kuku sudah masuk di Banjarnegara. Saat ini pihaknya tengah gencar melakukan pengecekan dengan mengambil sampel.

“Benar bahwa PMK sudah masuk di Banjarnegara termasuk yang di Desa Karangjambe itu gejalanya mengarah ke sana. Kami terus melakukan pengecekan dari kandang ke kandang. Dengan mengambil sampel untuk diuji laboratorium,” terang Totok.

Untuk ternak yang sudah suspek PMK langsung dilakukan karantina dengan dilakukan pengawasan ketat. Termasuk membatasi orang keluar-masuk kandang.

“Kalau yang sudah suspek PMK langsung dikarantina. Orang yang keluar masuk kandang juga dibatasi. Ini untuk antisipasi penularan ke hewan ternak lainnya,” jelasnya.

Untuk pemeriksaan laboratorium, pihaknya bekerja sama dengan Balai Karantina dan Laboratorium Kesehatan Hewan di Wates. Mengingat di Banjarnegara tidak memiliki laboratorium untuk penyakit tersebut.

“Untuk uji laboratorium kami lakukan di balai karantina dan laboratorium kesehatan hewan di Wates, karena di sini tidak ada. Saat ini kami juga terus melakukan penyemprotan disinfektan dan pemberian vitamin pada hewan ternak,” tambahnya.

*( RUDOLF)*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.