Menjelang 71 Tahun Aniversary Kak Seto Memasuki 51 Tahun Pengabdianya Terhadap Anak-Anak Negri

  • Bagikan

Jakarta, Buser45.com  |Dari sinilah awal kegemilangan saya mulai meningkat, hingga akhirnya Pak Kasur berpesan kepada saya yang tidak bisa dilupakannya.

Dengan perasaan haru dan sebagainya saya menyatakan iya kepada pak kasur saat itu.

Sejak saat itu itulah, saya mulai giat dan aktif dalam menekuni dunia anak-anak,” tutur Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia ini.

Dengan penghasilan yang didapatkannya,Seto berhasil mencapai kelulusannya dengan gelar sarjana Psikologi Universitas Indonesia. Setelah 37 tahun berkiprah di dunia anak-anak dan itu belum membuat Kak Seto puas.

“Karena jutaan anak-anak haknya masih dilanggar, misalnya dalam kasus perceraian, kekerasan dengan mengatas namakan pendidikan, dan masih banyak masalah tentang Anak yang diperdagangkan.

Sehingga, saya mencoba untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk meneruskan estafet Amanah Pak Kasur dengan membuat kelompok pencinta anak (Kompak),” kata kak seto yang juga mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.

Moto kak Seto
• Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mencintai anak-anak’

Karna membuat Kak Seto konsisten terjun ke dunia anak-anak.

“Walaupun saya ditawari untuk terjun di dunia politik, saya tidak menginginkannya. Dengan berat hati saya akan menolaknya, karena saya tidak mempunyai keahlian yang lain selain momong anak,” tandas lulusan Fakultas Psikologi UI 1981 ini. Seto juga berpesan, maraknya penculikan, penganiayaan dan perdagangan Organ tubuh anak yang terjadi akhir-akhir ini membuat miris hati

Sehingga orang tua harus berperan aktif dalam menjaga anak-anak walau dengan kesibukan yang menyita waktu dan perhatian orang tua. Bahkan, kalau perlu titipkan anak kepada orang yang bertanggung jawab penuh.

Bijaksana Sebagai suami dan Ayah pada Keluarga

“Orang tua harus peduli terhadap hak anak, termasuk hak untuk mendapat perlindungan. Jadi orang tua harus sadar, bahwa anak tidak cukup mampu untuk melindungi diri sendiri. Di satu sisi harus dilatih langkah-langkah awal, sepert berani teriak, jangan pergi ke tempat yang sepi, memakai perhiasan yang belebihan. Dan orangtua harus mengetahui setiap detik di mana anak-anak berada,” papar lulusan Program Pascasarjana Psikologi UI ini. Kesibukan Seto ternyata tidak membuat Deviana, sang isteri, komplain dalam urusan rumah tangga. Karena sejak dini, Seto telah mengajarkan kepada anak dan isterinya untuk belajar saling terbuka terhadap semua permasalahan.

“Hampir setiap Sabtu, kita melakukan Sidang Umum Permasalahan Rumah. Nah, disitulah kita mulai saling terbuka mengenai semua permasalahan di rumah. Saat itu juga kita saling kritik dan mengritik, sehingga tidak ada lagi masalah yang mengganjal di antara keluarga. Kalau perlu, setiap saya akan berkunjung ke suatu tempat sering juga mengajak keluarga. Agar mereka tahu, bagaimana pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya,” tandas ayah dari empat bersaudara ini.

 

Awal Pertemuan Kak Seto dengan Sang Istri
mulanya cuma sebagai penggemar, namun lama-kelamaan, cinta di hati pun bersemi. Itulah sepenggal kenangan indah awal pertemuan dua pasangan Seto Mulyadi dan Deviana pada 1986 di Radio Prambors. Ketika itu Prambors sedang mengadakan acara Sarseto Show (Sarlito Wirawan dan Seto Mulyadi) yang membahas persoalan remaja. “Sewaktu ketemu, saya sih menganggapnya sebagai figur guru,” kata Deviana, baru-baru ini. Deviana saat baru kenal dengan Kak Seto usianya masih 16 tahun. Ketika itu Prambors tengah membuka sesi dialog. Dari seluruh peserta, cuma empat sampai enam orang dipersilakan maju untuk bertanya.

“Salah satu remaja waktu itu bernama Deviana,” ucap Kak Seto. Kak Seto mengaku, pertautan usia antara mereka cukup jauh.
Ketika itu Kak Seto berusia sekitar 35 tahun. “Walaupun jarak usia yang cukup jauh, tapi kita bisa jalan cukup nyambung. Cukup dewasa untuk anak seusia dia,”

puji pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951. Cinta memang tak memandang usia. Memasuki tahun 1988, barulah Kak Seto melamar Deviana. Lamaran itu diterima lantaran Deviana melihat sosok ayah dalam diri Kak Seto. “Saya, kan, ditinggal ayah dari usia 11 tahun,” jelas dia. Kini, pasangan Seto Mulyadi dan Deviana telah dikaruniai tiga putri dan satu putra.

Berjarak 18 tahun dengan saya, tak membuat hati Devi menciut*
Bagi Devi, figur Kak Seto merupakan sosok bapak, saudara dan sahabat dalam berbagi suka dan duka. Bahkan kak Seto sempat mengeluarkan Nazarnya, pada Devi bahwa diri saya”
Nazar Jika suatu saat dirinya menikah aku akan mendongeng kepada anak-anak yatim piatu*

Dan itu telah dipenuhinya akan Nazar tulus kak Seto.

Saat selesai acara resepsi pernikahan “Usai para tamu pulang, kita langsung melepas pakaian dan berganti dengan kostum biasa. Bahkan, isteri saya masih menggunakan sanggul dan kami langsung menuju Panti Asuhan Muslimin di Kawasan Keramat Raya Jakarta pusat untuk melaksanakan nazar saya,”kenang kak seto.
Dan saat itu semakin membuat saya lebih mencintai dan menyayangi anak-anak dengan dunianya.

( Rudolf / Rusman Haspian )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.