Tradisi Sedekah Bumi di Desa Rahtawu Kabupaten Kudus

  • Bagikan

Kudus, Buser45.com || Apit merupakan nama bulan sebelum bulan Besar dalam penanggalan Jawa. Apitan sering dikaitkan dengan penyelenggaraan sedekah bumi oleh masyarakat yang bertujuan untuk selamatan sekaligus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah diberikan.

Di desa Rahtawu Kecamatan Gebog, tradisi sedekah bumi digelar dengan cara berbeda dari sedekah bumi daerah lainya, yakni menyelenggarakan ‘Langen Beksan Tayub’ yang identik dengan menyanyikan tembang Jawa. Hal tersebut disampaikan Bupati Kudus H.M. Hartopo didampingi Kepala OPD terkait, Camat Gebog, dan Kades Rahtawu yang nampak takjub menyaksikan jalanya sedekah bumi, Sabtu (18/6).

“Langen Beksan Tayub yang diselenggarakan Pemdes Rahtawu memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dalam penyelenggaraan sedekah bumi dan wajib ada, ini salah satu ritual tahunan yang pada intinya ungkapan rasa syukur terhadap hasil bumi,” katanya.

Hartopo berpendapat bahwa tradisi sedekah bumi merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah, sedekah bumi juga diartikan sebagai sarana memanjatkan doa agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana.

Tak lupa, Hartopo juga selalu mengingatkan pada masyarakatnya untuk selalu disiplin protokol kesehatan sebagai ikhtiyar mencegah penyebaran covid-19.

Terakhir, Pihaknya juga meminta doa agar Kudus selalu diberikan kesehatan, kondusifitas wilayah, dan dijauhkan dari bencana.

Dalam kesempatan tersebut, Kades Rahtawu Rasmadi Didik Aryadi melaporkan kondisi dan perkembangan desa Rahtawu sebagai desa wisata yang meskipun terdampak pandemi namun tetap dapat menghasilkan PADes.

Dirinya meminta dukungan pada Pemkab Kudus dalam upaya meningkatkan pariwisata desa yang Ia pimpin hingga akhir masa jabatanya.

Dirinya yakin sinergi yang terjalin baik antara Pemdes Rahtawu dengan seluruh OPD terkait dapat menjadikan desa Rahtawu sebagai pusat tujuan wisata para pelancong.

Agus Selamet, warga desa Peganjaran mengaku bahwa dirinya penasaran dan antusias akan pagelaran sedekah bumi di desa Rahtawu yang sedikit berbeda. Oleh karenanya, dirinya rela datang dari tempat yang cukup jauh untuk sekedar menyaksikan pagelaran tersebut.

(Yanto Buser45)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.